//
you're reading...
Motivasi

Tiga Perkara, Kunci Menguasai Ilmu

Selain menghapal dan mengulang-ulang pelajaran, diperlukan hal lain agar seorang benar-benar mutqin, menguasai betul ilmu yang sudah dia pelajari.
Al Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah menukilkan ucapan Al Wazir bin Hubairah rahimahullah bahwa ilmu itu benar-benar didapatkan melalui tiga perkara: Praktek, mengajar, dan menulis.

Penjelasannya sebagai berikut:

1. PRAKTEK

Misalnya seorang belajar bahasa Arab. Dia belajar nahwu dan sharf. Dia tidak akan menguasai ilmu tersebut kecuali dengan mempraktekkannya. Entah dengan praktek membaca kitab atau bercakap-cakap dengan bahasa Arab.
Demikian juga dengan ilmu waris. Ilmu ini tidak akan bisa dikuasai hanya dengan tahu teori saja, tahu bagian-bagian si penerima waris; istri mendapat seperempat harta bila suami tidak punya keturunan, mendapat seperdelapan bila suami punya keturunan, dst. Tapi harus dengan praktek memecahkan permasalahan-permasalahan warisan.

2. MENGAJAR

Tidak ada yang memungkiri kalau seorang yang mengajar akan lebih mutqin dalam ilmunya. Guru kami, Asy Syaikh Abdullah bin Umar bin Mar’ie hafizhahullah sering menukilkan ucapan Syaikh Muqbil bin Hadi bahwa mengajar itu lebih bermanfaat dua puluh kali lipat daripada sekedar mengulang-ulang pelajaran.

Seorang yang akan mengajar tentu saja akan mempersiapkan terlebih dahulu materi yang akan dia ajarkan. Namun apabila hal ini senantiasa terus berulang, tiap tahun materi yang dia ajarkan itu-itu juga, bisa jadi suatu saat ketika ingin mengajar dia perlu lagi persiapan karena ilmu itu sudah kokoh berada di dalam dadanya. Tinggal dikeluarkan.

Bila kita belajar kepada para masyaikh, kepada guru-guru yang senior, pelajaran rasanya terasa lebih mudah dicerna. Kenapa? Karena jam mengajar mereka yang tinggi dan penguasaan mereka terhadap ilmu yang mereka ajarkan.

Hal ini saya rasakan sendiri, apabila belajar kepada guru-guru senior yang sudah mengajar sejak belasan tahun yang lalu maka akan kita dapati metode mengajar mereka sangat menyenangkan. Mereka tahu mana yang harus didahulukan, mana yang harus diakhirkan ketika mengajar. Dan mereka juga bisa menjelaskan masalah-masalah yang rumit dengan cara yang mudah dipahami pula.

3. MENULIS

Ini perkara yang ketiga yang disebutkan oleh Al Wazir bin Hubairah. Dan memang kita dapati bahwa menulis karya ilmiyah adalah salah satu kesibukan para ulama dari zaman salaf.

Disebutkan bahwa Al Imam Ath Thabari, penulis Tafsir Ath Thabari, apabila seluruh karya tulis beliau dikumpulkan, kemudian dibagi dengan usia beliau, maka akan didapati bahwa rata-rata setiap harinya beliau menulis ENAM PULUH halaman karya ilmiyah. Bukan sekedar tulisan biasa, tapi tulisan ilmiyah. Angka enam puluh ini pun ternyata bukan angka yang obyektif, karena usia kanak-kanak beliau ikut menjadi pembagi.

Sebagai contoh lain, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah. Beliau mulai menulis di usia beliau yang keduapuluh tiga. Ash Sakhowi rahimahullah, murid beliau, mengatakan bahwa sepanjang usia beliau, Ibnu Hajar telah menulis sebanyak dua ratus tujuh puluh judul kitab. Bahkan peneliti karya-karya beliau di zaman kita mengatakan bahwa karya beliau lebih daripada itu.

Dan di antaranya adalah karya beliau yang begitu fenomenal, kitab Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari yang jumlahnya hampir duapuluh jilid.

Inilah tiga metode yang bisa kita tempuh agar ilmu yang kita pelajari bisa benar-benar kita kuasai.

Sebagai tambahan faidah, Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobi hafizhahullahu ta’ala (salah seorang ulama besar Yaman, penulis kitab Al Qoulil Mufid fi Adillatit Tauhid) pernah ditanya, kitab apa yang harus dibaca seorang penuntut ilmu agar dia benar-benar menjadi seorang yang faqih. Beliau menjawab hendaknya dia membaca kumpulan fatwa Al Lajnah Ad Daimah, Lembaga penelitian masalah-masalah keislaman dan fatwa Kerajaan Saudi Arabia.

Mungkin sebagian penuntut ilmu sedikit terkejut dengan jawaban Asy Syaikh hafizhahullahu ta’ala. Akan tetapi kalau kita pikir dengan mendalam, maka kita akan dapati bahwa ucapan syaikh sangat tepat. Para ulama yang duduk di Lajnah Ad Daimah adalah para ulama besar yang sudah puluhan tahun mendalami Islam. Mereka pun adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dalam mengajar, meneliti, membahas dan menulis permasalahan-permasalahan agama.

Di dalam fatwa-fatwa mereka kita akan dapatkan luasnya fiqh mereka, kedalaman istidlal (cara berdalil) mereka, kemudian pertimbangan maslahat-mafsadat ketika memutuskan suatu hukum. Ini adalah tathbiq (praktek) dari ilmu yang sudah mereka geluti selama puluhan tahun.

Semoga tulisan ringkas ini bisa bermanfaat bagi kita semua, menjadi motivasi terutama bagi para penuntut ilmu untuk bisa istiqomah dalam belajar sampai meraih keberhasilan. Wallahu a’lam.

oleh Ustadz Abu ‘Umar Wira Bachrun, Hadramaut, 28 Dzulqa’dah 1433 H – 10/10/2012 M.

About almisykats

Bukan siapa-siapa, cuma seorang thulaibul ilmi nyambi kuliah..

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: